BERITA SEKOLAH

HYBIRD LEARNING SEBAGAI SOLUSI MENGATASI TANTANGAN MANAJEMEN WAKTU GURU DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA

29 May 2026 Admin Sekolah 5 menit baca
HYBIRD LEARNING SEBAGAI SOLUSI MENGATASI TANTANGAN MANAJEMEN WAKTU GURU DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA
Dokumentasi ALMAS.CO

Pendidikan di Indonesia saat ini, mengalami perubahan dan penyesuaian seiring perkembangan teknologi, globalisasi dan kurikulum merdeka yang dikembangkan dalam pembelajaran bermakna (Deep Learning). Pemerintah Indonesia berupaya menciptakan sistem pendidikan yang kontekstual, adaptif dan berorientasi pada penguatan karakter serta kompetensi abad 21. Transformasi ini mengharuskan guru menjadi fasilitator untuk melakukan lebih dari sekadar penyampaianmateri kepada peserta didikr, pembimbing dan penggerak proses pembelajaran bermakna untuk peserta didik. Guru dituntut untuk mampu mengintegrasikan nilai karakter, keterampilan abad 21, pemahaman konsep secara seimbang dalam setiap kegiatan belajar, sekaligus mendorong peserta didik untuk menjadi pelajar mandiri, kreatif, dan kritis. Perubahan ini juga mengharuskan guru memanfaatkan teknologi secara optimal, menyusun rencana pembelajaran yang fleksibel, serta mengelolawaktu dan sumber daya secara efektif agar pembelajaran dapat berjalan dengan efisien dan menyenangkan.Pada penerapan kurikulum merdeka, pemerintah berupaya menciptakan pembelajaran yang menekankan kemandirian, kreativitas serta pengembangan nilai-nilai profil pelajar Pancasila (P5).Selain prestasi akademik, pendidikan saat ini juga menekankan penguatan karakter dan moral peserta didik untuk menghadapi tuntunan zamanyang terus berubah. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Pancasila memiliki porsi strategi dalam pendidikan nasional Indonesia. Pendidikan Pancasila membentuk rakyat yang berakhlak, demokratis, dan bertanggung jawab. Pendidikan Pancasila tidak hanya berfungsi untuk mentransfer pengetahuan mengenai nilai-nilai dasar negara dan konstitusi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter, moral dan kesadaran berbangsa bernegara bagi peserta didik. Pendidikan Pancasila bertujuan agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam implementasi Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar, guru kerap menghadapi tantangan signifikan dalam manajemen waktu. Guru harus membagi waktu antara penyampaian materi, kegiatan kelas, evaluasi, dan tuntutan administratif sekolah. Padatnya jadwal menyebabkan guru kesulitan mengalokasi waktu yang cukup untuk mengelola pembelajaran. Keterbatasan waktu ini berimplikasi pada efektivitas pembelajaran, terutama dalam menanamkan nilai dan sikap Pancasila secara mendalam. Guru cenderung kembali pada metode ceramah untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan waktu, yang berpotensi mengurangi kualitas internalisasi nilai. Akibatnya, peserta didik hanya memahami konsep secara kognitif, belum menanamkan kesadaran dan praktik nilai-nilai kebangsaan serta moralitas. Hybrid learningmuncul sebagai salah satu inovasi strategis yang mampu menjawab tantangan manajemen waktu guru. Dengan memadukan pembelajaran sinkron dan asinkron, hybrid learningmemungkinkan guru mengoptimalkan waktu tatap muka untuk kegiatan reflektif dan dialogis, sementara materi konseptual dapat dipelajari peserta didik secara mandiri di luar kelas. Model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan efisiensi alokasi waktu dalamproses pendidikan, tetapi juga memastikan bahwa kegiatan pembelajaran tetap berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik serta pengintegrasian nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi etika dan moralitas nasional. Pendekatan ini selaras dengan prinsip-prinsip pedagogi holistik sebagaimana dianjurkan dalam kurikulum nasional Indonesia, memungkinkan guru untuk mengoptimalkan sumber daya temporal tanpa mengorbankan dimensi afektif dan sosial dalam pembelajaran. TINJAUAN PUSTAKAHybrid learningsebagai pendekatan pedagogis yang memadukan elemen pembelajaran pertemuan langsung dan daring telah berubah menjadi subjek kajian intensif dalam literatur pendidikan untuk mengatasi kendala efisiensi waktu dan personalisasi proses belajar. Bahrudin & Legiani (2022) mengemukakan bahwa implementasi hybrid learningbertujuan menyediakan peluang bagi peserta didik dengan beragam karakteristik untuk belajar secara mandiri,

Hybrid Learningdapat menjadi solusi strategis dalam mengatasi tantangan manajemen waktu guru yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring berbasis teknologi digital. Model ini memerlukan perencanaan yang matang, integrasi teknologi digital yang memadai, serta evaluasi berkala sehingga mampu mengatasi tantangan manajemen waktu. Dengan demikian, Hybrid Learningtidak hanya memberikan fleksibilitas belajar bagi peserta didik dan melatih kemandirian namun juga menjadi solusi manajemen waktu yang efektif dan efisien bagi guru kelas III di SDN Nayu Barat 1 dalam membangun karakter dan moral peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional di era digital 

(Sumber : https://cibinstitute.id/index.php/sindoro/article/view/3127/2719)


 

 


 


Berita Terbaru